My Social Media Profile :
  • Bimbingan Konseling

    Diklat Pendidik Sebaya Angkatan III Kategori Pelajar dan Mahasiwa - Tahun 2012 yang diselenggarakan atas kerjasama UKM PIK STKIP PGRI Tulungagung dan BKKBN Kabupaten Tulungagung.
  • FORDIMAPELAR 2012

    Tahun 2012, Universitas Madura (Unira) menjadi tuan rumah pelaksanaan Forum Diskusi Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (Fordimapelar) se-Jawa Timur.
  • HUT SIK KE-41

    Pagi Sabtu 31 Juli 2010, di depan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) sekitar jam Sembilan pagi, para siswa, staf, guru, Komite Sekolah, orang tua murid, & para alumni mulai berdatangan memasuki kawasan sekolah untuk menghadiri acara peringatan HUT SIK Ke-41
  • Pembangunan Desa

    Perlunya perencanaan keuangan bagi tiap keluarga di desa yang terintegrasi dengan konsultasi dari pihak yang lebih kompeten seperti wakil dari pemerintah daerah, serta professional dari lembaga keuangan.
  • ALUMNI SIK

    Semoga kedepannya hasil output pendidikan nasional bisa berkontribusi secara nyata di masyarakat. Mewujudkan Generasi Emas Indonesia yang berdaya saing global serta kompeten dalam mengolah local genius.

Artikel Pilihan

Tampilkan postingan dengan label Sekolah Indonesia Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Indonesia Luar Negeri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2010

Salam Merdeka untukmu Indonesia dari kami sekeluarga di Kuala Lumpur.

17 Agustus 2010, sudah 10 tahun di negeri jiran. Setelah meninggalkan Indonesia 6 Januari 2002, kini sekeluarga semuanya semakin baik. Dari segi ekonomi, pendidikan, dan status sosial. Kalau tiada halangan, rencananya tahun depan Insya Allah sudah kembali lagi ke Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung yang selalu “Guyub Rukun.”

Teringat saya bagaimana perjalanan awal kami sekeluarga ke Malaysia sekitar delapan tahun yang lalu, dulu semuanya tidaklah semudah seperti sekarang ini. Waktu itu, keadaan ekonomi keluarga belum seperti sekarang, pekerjaan bapak saya sebagai buruh di sebuah pasar di Kuala Lumpur (KL), tepatnya di Pasar Borong Kuala Lumpur hanya mampu menghasilkan sekitar RM 1000 sebulan. Kamipun bertempat tinggal hanya di sebuah kamar kecil yang disewa beramai – ramai dengan TKI lainnya. Sekitar 4 tahunan keadaan seperti itu kami bertiga (Bapak, Ibu, dan Saya) lalui.

Alhamdulillah, setelah tahun 2007 nasib kami sekeluarga bertambah baik. Dengan pekerjaan tetap sebagai “Pemandu Teksi” , dan membuka usaha sendiri, penghasilan per bulan pun membaik. Langsung kami sekeluarga pun berpindah ke rumah baru yang disewa di Taman Wilayah. Dari segi pendidikan pun saya sekarang sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), yang jika dibandingkan dengan taraf pendidikan anak di desa saya, itu pun sudah termasuk tinggi.

Ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi? Mungkin nanti. Saya sudah cukup puas dengan apa yang saya miliki sekarang. Mungkin juga dengan sedikit suntikan modal, saya bisa membuka sebuah usaha, siapa tau kan? Atau mungkin saya diterima bekerja dengan gaji yang cukup disimpan untuk kemudian hari. Waktu yang menentukannya nanti.

Hanya ungkapan terima kasih yang sebanyak – banyak-nya untuk negeri jiran ini, Malaysia. Begitu pula rekan – rekan masyarakat dan keturunan Indonesia di sini.

Dan, di hari Kemerdekaan yang ke-45 ini, saya mengucapkan salam Merdeka, salam Nasionalisme, karena Nasionalisme kalian yang kalian tunjukkan, jauh dari sanak saudara, bekerja untuk anak dan istri, untuk penghidupan yang lebih baik. Semoga kedepannnya Indonesia semakin meningkat perekonomiaannnya, sehingga adik – adik dan anak anak yang masih di kampung halaman tidak perlu jauh – jauh merantau ke Malaysia hanya untuk bekerja (Karena nilai tukar Ringgit lebih tinggi dari Rupiah sekarang), karena hidup di negeri orang tidak selalunya menyenangkan. (Masih ingat kasus yang terjadi antara Indonesia – Malaysia tahun 2009 yang lalu ?).



Sekian dan terima kasih, “Salam Merdeka dan Jayalah Selamanya.”

HUT Sekolah Indonesia Kuala Lumpur ke-41



Pagi Sabtu 31 Juli 2010, di depan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) sekitar jam Sembilan pagi, para siswa, staf, guru, Komite Sekolah, orang tua murid, & para alumni mulai berdatangan memasuki kawasan sekolah ( yang sudah dihiasi dengan bendera merah putih, poster, dan berbagai dekorasi) dan disambut meriah dengan siswa – siswi penerima tamu yang berpakaian khas daerah Indonesia.

Sementara itu, di dalam Gedung Serbaguna Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK), sudah dipenuhi dengan tamu lainnya yang sudah datang terlebih dahulu, duduk di depan pentas yang malam sebelumnya disiapkan oleh pengurus OSIS bersama koodinatornya (Galih S (3 IPA) Ketua OSIS nya SIK 2009 – 2010), semuanya siswa- siswi Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) (dan mantan siswa seperti Cak Saipul, Bebeh,Indra, Kak Beni, Kak Ardi, dan emm…banyak lagi dh). Dan yang paling sibuk Kak Joko ketua Acara.

“SIK-ku, Indonesia-ku.” , terlihat tulisan background di atas pentas. Pagi hari itu, di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK), dilaksanakan Pentas Seni HUT Sekolah ke-41. Acara-pun, dimulai sekitar jam 10 pagi dengan musik iringan Drum Band. Setelah itu Atase Pendidikan Nasional, Kepala Komite, Kepala Sekolah(Bu Elslee yang saya hormati), Mantan Kepala dan Guru( Pak Suparlan, Pak Karsam, Bu Yulisma, dan banyak lagi yang saya belum kenal), duduk di kursi VIP masing – masing dengan antusias melihat penampilan Bapak Ibu Guru memainkan angklung yang dipimpin oleh Bu Aan dengan Bu Dian menyanyikan dua lagu tradisional.

Seperti acara semi formal biasanya, setelah pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan beberapa kata sambutan, tampil menarik diakhiri dengan tampilan slideshow “Sejarah 41 Tahun Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK)”,berdurasi 5 menit karya Mas DP.

Berbagai persembahan baik oleh siswa maupun alumni, berupa tarian tradisional sampai kontemporer, puisi karya siswa, music Band( Band The Amateurs dan band lainnya), dan diselingi dengan pemberian hadiah pemenang lomba “Pertandingan Siswa.” Yang dilaksanakan hari sebelumnya.

Udara makin panas, jam menunjukkan jam satu siang, terlihat di kantin SIK Pak Nurihi (juga mantan guru SIK waktu saya SD dulu sampai bulan Mei 2010 yang lalu), berjualan sate dengan resep khas beliau, dan langsung dipenuhi calon – calon pembeli yang antre mau beli.

Kembali ke dalam Gedung Serbaguna, sekitar jam 1.30 siang, acarapun selesai. Lebih seru lagi, dilanjutkan dengan foto – foto bersama mantan kepala dan guru beserta alumni (Alhamdulillah saya lulus juga Unas Ulang, jadi termasuk alumni juga kan?). Dan, dengan akses internet, besok harinya foto – foto tersebut sudah mulai bertebaran dan dapat dilihat di facebook (link ada di bawah).




http://www.facebook.com/photo.php?pid=31110012&id=1598856656&ref=fbx_album#!/album.php?aid=2056830&id=1598856656


Sukses, sesuai dengan tujuan pelaksanaan acara ini (di dalam proposal), mempererat tali silaturahmi antara siswa, guru, staf, Komite Sekolah, orang tua murid, & para alumni.

Di sini saya tampilkan juga Daftar Kepala Sekolah Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK), dari awal sampai sekarang, (9.00 pm, 1 Juli 2010) :

M.Alwi Oemry (1968 – 1971), Alex Rondonuwu (1971 – 1973), Tatang Koasih Wirahadimaja (1973 – 1976), Drs. Arief Moedjihono (1976), Drs. Soeroso Darmoatmojo (1980 – 1983), Drs.Soedijono (1983 – 1987), Drs.H M.Isa (1987 – 1992), Dra. Atjeu Tataningsih (1992 – 1995), Kol. Art Erman Hidayat (1995 – 1996), Drs.Suparlan (1996 – 2000), Drs. Darjis, M.Si (200 – 2003), Drs. Achmad Aviv Nur (2003 – 2006), H.Abdul Djawad, S.Pd (2006 – 2009), Elslee Y.A Sheyoputri, M.Hum (2009 – Sekarang).

Selamat ulang tahun SIK-ku, jayalah selamanya.

Rabu, 03 September 2008

BANGSAKU DI TANAH MELAYU

Mereka tidak bisa menyakiti

Jika mengingat bagaimana aku pernah dihina karena aku seorang Indonesia, atau merasa begitu terhina karena saudara-saudaraku selalu disakiti. Namun hati ini telah bertekad bulat. Mereka tidak akan bisa menyakiti lagi. Tidak ada yang mampu menyakiti hati ini kecuali diri sendiri. Apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka lakukan, mereka tak mampu menyakiti. Apalagi membuat jatuh dan tidak terbangun lagi.

Wahai saudara sebangsaku, meskipun engkau pernah merasa dihina ataupun masih terasa dihina, janganlah putus asa. Saya yakin saudara-saudara akan terus datang ke tanah melayu ini dan berjuang demi penghidupan. Saya rasa, itu semua hak manusia untuk mengembara dan berjuang mendapatkan penghidupan.

Jika satu diantara saudaraku setanah airku merasa sakit, penderitaan itu akan dibagi pada semua rakyat Indonesia. Bukan saja dua juta rakyat Indonesia di Malaysia. Namun pada hampir 300 kuta jumlah rakyat Indonesia. Maka rasa sakit sebesar apapun tidak mampu menyakiti satu per satu saudaraku. Mereka tidak mampu dan tidak akan pernah bisa.

Kembali kepangkuan Negeri.

Jika telah sampai pada masanya, masing-masing akan kembali untuk membangun negeri Indonesia tercinta. Saat ini, saya mengerti, satu per satu rakyat Indonesia berjuang memenuhi impian yang belum dapat disemai di bumi ibu pertiwi. Bila impian sudah terpenuhi, jangan lupa untuk kembali kepangkuan negeri.

Marilah kita membangun bangsa dan Negara Indonesia, agar masing-masing dari kita dapat merasa bangga. Suatu saat kita pasti akan terbangga karena nilai tukar rupiah kita mampu meruntuhkan Dollar maupun Euro. Nanti kalau mimpi satu per satu telah terpenuhi. Mari kembali dan bangun negeri. Mari berjuang usung mimpi Ibu Pertiwi.

Selasa, 27 Mei 2008




INILAH DIA SEJARAH SELAMA DI SEKOLAH INDONESIA KUALA LUMPUR (SIK).