My Social Media Profile :
  • Bimbingan Konseling

    Diklat Pendidik Sebaya Angkatan III Kategori Pelajar dan Mahasiwa - Tahun 2012 yang diselenggarakan atas kerjasama UKM PIK STKIP PGRI Tulungagung dan BKKBN Kabupaten Tulungagung.
  • FORDIMAPELAR 2012

    Tahun 2012, Universitas Madura (Unira) menjadi tuan rumah pelaksanaan Forum Diskusi Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (Fordimapelar) se-Jawa Timur.
  • HUT SIK KE-41

    Pagi Sabtu 31 Juli 2010, di depan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) sekitar jam Sembilan pagi, para siswa, staf, guru, Komite Sekolah, orang tua murid, & para alumni mulai berdatangan memasuki kawasan sekolah untuk menghadiri acara peringatan HUT SIK Ke-41
  • Pembangunan Desa

    Perlunya perencanaan keuangan bagi tiap keluarga di desa yang terintegrasi dengan konsultasi dari pihak yang lebih kompeten seperti wakil dari pemerintah daerah, serta professional dari lembaga keuangan.
  • ALUMNI SIK

    Semoga kedepannya hasil output pendidikan nasional bisa berkontribusi secara nyata di masyarakat. Mewujudkan Generasi Emas Indonesia yang berdaya saing global serta kompeten dalam mengolah local genius.

Artikel Pilihan

Senin, 29 September 2014

Logo Baru STKIP PGRI Tulungagung

Gambar dalam post ini merupakan logo STKIP PGRI Tulungagung yang terbaru, yakni edisi 2014. Saya mengunggah dis sini karena akhir - akhir ini banyak mahasiswa baru maupun mahasiswa angkatan atas STKIP PGRI Tulungagung yang ingin mendapatkan file digital logo STKIP PGRI Tulungagung yang baru, entah itu untuk keperluan makalah, proposal, presentasi serta tugas kuliah lainnya. Akan tetapi, setelah mencari di beberapa website masih juga belum ditemukan file digital logo STKIP PGRI Tulungagung yang baru. Silahkan didownload, semoga bisa digunakan sebagaimana mestinya. Terakhir, semoga seluruh mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa angkatan atas bisa menjalankan berbagai tugas kuliah dengan lancar, semoga sukses.

Minggu, 10 Agustus 2014

Review Artikel “Mengapa Jokowi ?”

Saya tertarik dengan pembahasan Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) yang membahas Presiden terpilih kita, yakni Joko Widodo yang Anda tuangkan dalam artikel berjudul “Mengapa Jokowi ?” (http://www.agusmulyadi.web.id/2014/06/mengapa-jokowi.html) dan di-posting Tanggal 20 Juni 2014 yang lalu. Awalnya, saya membaca artikel tersebut dengan seksama, saya tertarik untuk memberikan semacam artikel balasan untuk menanggapi artikel yang Anda posting di blog pribadi Anda tersebut. Lantas, di sini saya bermaksud untuk memberikan sedikit review tentang opini – opini yang Anda tulis sekaligus juga memberikan sedikit review secara makro tentang Pilpres 2014 itu sendiri. Selanjutnya, saya membuat rincian bagian – bagian penting dari artikel Anda dan dalam waktu yang bersamaan saya menuliskan pendapat saya secara pribadi. Berikut ini bagian – bagian penting dalam artikel “Mengapa Jokowi ?” :


1. Bagian Awal :

Pada bagian awal, Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) menulis : “Perlu digarisbawahi, saya tidak mendukung Jokowi, melainkan lebih mendukung Jokowi. Tolong bedakan. Saya mendukung Jokowi maupun Prabowo, karena bagaimanapun, saya yakin, baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama punya visi yang baik untuk memajukan Indonesia. Namun karena saya harus memilih salah satu, saya memutuskan untuk lebih mendukung Jokowi.”

Untuk hal ini saya tidak sependapat, karena saya lebih memilih Prabowo. Dalam hal ini, saya berpendapat Prabowo lebihg memiliki karakter sebabagi pemimpin. Buktinya beliau memimpin banyak organisasi selepas pensiun sebagai militer. Dalam waktu bersamaan, Prabowo memiliki partai, Partai Gerindra. Dengan memiliki partai publik menjadi jelas akan arah pencalonannya. Prabowo berbeda dengan para tokoh lain yang tidak memiliki partai seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, atau Dahlan Iskan. Saya juga yakin Prabowo juga sosok nasionalis yang mampu menjaga tanah air, pulau dan perairan Indonesia.


2. Bagian Penegasan :
Kemudian Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) menambahkan, “Saya kagum dengan sosok Jokowi yang begitu santun dan sederhana. Walaupun beliau agak plegak-pleguk kalau bicara, namun menurut saya, beliau cerdas dan Banyak akal dalam menyelesaikan berbagai solusi pemerintahan yang dia pimpin.”

Sebenarnya, dari awal saya sudah merasakan media massa yang sebenarnya berperan dalam hal ini. Media cetak dan elektronik selalu menampilkan Slogan Jokowi-JK yang jujur, bersih, sederhana dan merakyat sebagai antitesa (lawan) dari keadaan atau kondisi kehidupan sekarang yang korup, borjuis, hedonis, dan permisive. Jokowi-JK benar-benar sedang membangun citra baru, sebagai tokoh jujur, bersih, sederhana dan merakyat. Gambaran ini terus di berikan kepada rakyat. Media massa juga menambahkan, Jokowi memiliki hobi mendengarkan musik rock dan gemar naik gunung semasa muda. Selain itu, masih banyak hal menarik yang dimiliki mantan Wali Kota Surakarta ini. Pemberitaan yang sempat meramaikan media massa sekaligus menjadi kontroversi yakni ketika Jokowi mendukung keberhasilan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo dalam merakit mobil yang diberi nama Esemka. Jokowi bahkan menggunakan mobil Esemka sebagai mobil dinasnya dengan nomor polisi AD 1 A. Dalam hal ini, saya berpendapat citra/ sosok Jokowi yang suka blusukan dan mau menyapa rakyat memang disenangi. Namun karena keunggulan dan citra Jokowi itu dieksploitasi berlebihan untuk menarik minat publik, hasilnya justru kontraproduktif.


3. Bagian Tambahan :
Artikel “Mengapa Jokowi ?” (http://www.agusmulyadi.web.id/2014/06/mengapa-jokowi.html) berlanjut dengan statement : “Begitu Hijrah ke Jakarta, kompetensinya sebagai pemimpin pun kembali teruji. Bersama Ahok, Jokowi seolah menjelma menjadi Macan dingin yang mrantasi. Gaya blusukannya yang khas menjadikannya cepat populer di mata masyarakat.”

Jujur saja, untuk memimpin Jakarta, saya lebih menyukai gaya manajemen Ahok.Walau terlihat hampir tidak beda dengan ilmu manajemen kepemimpinan Jokowi, Ahok pun ternyata menerapkan ilmu manajemen kepemimpinan yang tidak kalah sederhananya yaitu “apa maunya saya”. Atas dasar penegakkan konstitusi, Ahok bergeming dalam banyak persoalan yang menjadi tanggung-jawabnya. Ahok maju tak gentar membela yang benar, Ahok melawan, Ahok menantang siapa saja yang berani melanggar konstitusi dan siap mati untuk itu.

4. Bagian Akhir :

Di akhir artikel, Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) menulis “Pada akhirnya, saya agaknya harus kembali menegaskan, bahwasanya saya lebih memilih Jokowi ketimbang Prabowo. Tapi sejujurnya, saya merasa masygul ketika tokoh Sebrilian Prabowo dan setulus Jokowi harus bertarung satu sama lain.”

Menurut sudut pandang saya, Jokowi yang saat ini terpilih sebagai Presiden ke - 7 Republik Indonesia memiliki sebenarnya kisah menarik dalam kehidupannya yang belum banyak mendapatkan sorotan dari media massa. Saya percaya, terpilihnya Jokowi menjadi Gubernur hingga menuju kursi orang nomer satu di Indonesia sangat menarik untuk dicermati. Sebab, selama ini ia selalu menampilkan sosok “ndeso” dan sederhana kepada warga. Akhirnya, harapan saya, politik yang saat ini sangat bersahabat dengan kekuasaan, uang dan kemewahan. Akan tetapi kali ini saya berharap Jokowi tidak bersahabat dengan itu. Kepemimpinannya yang berasal dari hati, semoga menyentuh hati rakyat untuk tetap mendukung kepemimpinannya selama 5 tahun ke depan untuk Indonesia yang lebih baik.

Rabu, 28 Agustus 2013

Paradigma Baru Pemuda dan Politik

Mengungkapkan realitas politik sebagaimana dingkapkan sebelumnya tegas disimpulkan bahwa transformasi politik adalah suatu keniscayaan, sehingga sekurang-kurangnya yang menjadi agenda atas persoalan itu adalah; Pertama; soal bagaimana para elit-elit partai politik mampu memberi arti keberadaan suatu partai politik, bukan semata pada tujuannya untuk menjadi instrumen pencapaian kedudukan, tetapi jauh lebih berarti adalah menggerakan fungsi-fungsinya untuk mengartikulasikan kemaslahatan rakyat banyak. Kedua, bagaimana elit-elit para pelaku politik untuk tidak terjebak pada adagium dan paradigma lama untuk meletakkan status quo, tetapi pada komitmen dan integritas sebagai elemen perubah. Ketiga, bagaimana para pelaku politik mampu mendorong tercipatanya sistem politik di satu sisi, dan menggerakkannya secara komplementer dengan budaya politik yang bertum-buh kembang di tengah masyarakat.


Jika ketiga soal tersebut dijadikan sebagai agenda transformasi politik, maka selain kaum intelektual dan cerdik cendekia posisi peran pemuda diharapkan menjadi instrumen penentu, sebagaimana rentetan pergerakannya yang dicatatkan dengan tinta emas dalam potret sejarah perubahan bangsa Indonesia, baik sebelum kemerdekaan (kebangkitan nasional 1908, per-sepakatan satu bangsa 1928, dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 1945), maupun sesudah Indonesia merdeka. Hanya saja, persoalan lain yang sampai saat ini belum terselesaikan, adalah soal pola dan bentuk gerakan kaum muda dalam menggerakkan suatu perubahan. Yaitu antara gerakan struktural dalam bentuk pemberontakan, ataukah gerakan kultural dalam bentuk penciptaan kesadaran hak-hak dan tanggungjawab sebagai warga negara. Penganut gerakan kultural menuding bahwa gerakan struktural tidak menyentuh pada substansi persoalan, semen-tara penganut struktural berdalih bahwa gerakan kultural sangat lamban dalam melakukan perubahan. Meskipun, dari sisi proses keduanya memiliki tarik ulur yang sama kuatnya, tetapi ketemu pada tujuan pencapaiannya dalam melaku-kan perubahan.


Untuk itulah, selain karena memiliki pembenarannya masing-masing, juga karena keduanya memiliki pencapaian tujuan yang sama, sehingga soal itu tidak mesti harus diselesaikan. Tetapi dalam melakukan transformasi politik era reformasi, keduanya sama-sama menjadi penting. Transformasi politik di satu sisi adalah soal struktural, sebagaimana tujuan partai politik untuk mencapai kekuasaan, membangun sistem politik, dan bagaimana para pelaku politik mampu menggerakkannya. Selebihnya transformasi politik secara kultural menjadi suatu yang absah, yaitu bagaimana menggerakkan partai politik untuk menjalankan fungsi-fungsinnya bagi masyarakat setidak-tidaknya para pengikutnya, untuk menciptakan suatu budaya politik yang egalitarian, berdasarkan komitmen pembaharuan dari para pelaku politik.

Rabu, 31 Juli 2013

Pemuda dan Kepemimpinan


Berdasarkan sejarah, tonggak awal kebangkitan nasional disebutkan diawali dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo tahun 1908. Organisasi yang dimotori oleh para mahasiswa Stovia sekolah kedokteran yang didirikan Belanda untuk anak priyayi Indonesia. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan karena organisasi Budi Oetomo tidak bersifat nasional. Organisasi ini hanya ada di Jawa dan memang khusus diperuntukkan untuk orang Jawa. Kontroversi sejarah tersebut tidak bisa menafikan bahwa sejak saat itu perjuangan pemuda telah memasuki babak baru. Perjuangan melalui sarana organisasi telah dimulai. Walaupun dimulai oleh organisasi yang bersifat kedaerahan, kesadaran untuk menyatu dalam suatu bangsa sudah ada. Dipelopori oleh para mahasiswa yang disekolahkan oleh Belanda dengan kebijakan politic etis.


Selanjutnya, periodisasi sejarah Indonesia modern memiliki keunikan tersendiri. Pembagian periode sejarah berdasarkan waktu itu diwarnai oleh gerakan pemuda di dalamnya. Sejarah Indonesia modern sering disebut berdasarkan periode kebangkitan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, bangkitnya orde baru 1966 dan dimulainya orde reformasi 1998. Peran pemuda dalam sejarah Indonesia sering disebut diawali oleh peristiwa kebangkitan nasional tahun 1908. Walaupun demikian sebenarnya peran pemuda telah diawali jauh sebelum itu. Hanya bentuk perannya yang berbeda. Sebelum 1908, para pemuda lebih banyak berperan dalam perjuangan secara fisik melawan penjajah namun lebih bersifat sektoral dan tidak terorganisir dalam satu wadah kesatuan. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ungkapan ini begitu masyhur dan telah menjadi nyata. Selain itu juga adanya sebuah pernyataan bahwa masa depan terletak di genggaman para pemuda. Artinya, baik buruknya suatu umat di masa datang di tentukan oleh baik buruknya pemuda di masa kini. Ungkapan tersebutlah yang menjadi barometer dan standarisasi dalam pembinaan dan mendidik generasi muda untuk melanjutkan estafet perjuangan. Pemuda merupakan pilar kebangkitan umat. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Kepemimpinan pemuda semakin dituntut oleh masyarakat pada umumnya, namun perubahan menuju masyarakat yang sejahtera seakan masih menjadi sebuah jalan panjang yang tak tahu dimana ujungnya. Bergantinya rezim pemerintahan dari masa ke masa seolah hanya menjadi sebuah rutinitas sakral dan ajang pertunjukan kekuasaan. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita utama perubahan hanya menjadi simbol jualan pasar menuju kekuasaan.


Saya kira hal inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi para pemuda masa kini yang sering disebut sebagai calon pemimpin bangsa masa depan. Pemuda yang di maksud adalah mahasiswa yang sedianya dikenal sebagai kalangan intelektual. Mahasiswa merupakan tingkatan dimana seseorang itu telah mampu menemukan jati diri atau pematangan diri. Sehingga pada tahapan ini proses pendidikan atau wawasan yang di terima sangat menentukan bagi masa depan mereka. Kemudian selanjutnya adalah bagaimana pemuda-pemuda ini mampu tampil sebagai seorang pemimpin di masa depan. Tentu hal mendasar yang harus diupayakan adalah melatih dan menanamkan karakter kepemimpinan mulai dari sekarang. Karena jiwa kepemimpinan dikalangan pemuda saat ini masih menjadi sebuah masalah dan tuntutan yang harus terus diasah dan ditingkatkan kualitasnya selain basis keilmuan/kompetensinya. Dengan demikian, maka sungguh banyak kewajiban pemuda, tanggung jawab, dan semakin berlipat, hak-hak umat yang harus ditunaikan oleh para pemuda. Pemuda dituntut untuk berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat dan hendaknya mampu menunaikan hak-hak umat dengan baik. Dengan kata lain, pemuda sesungguhnya dituntut untuk mendidik dirinya menjadi pemuda yang memiliki jiwa-jiwa pemimpin.

Senin, 29 Juli 2013

Olahraga Mencegah Narkoba


Untuk menghindari bahaya jeratan Narkoba,  Keseharian para Pemuda harus diisi dengan sejumlah kegiatan Positif  salah satunya dengan aktif pada Kegiatan-kegiatan Kesenian dan Kebudayaan, perhatian para orang tuapun memegang peranan penting  untuk menjauhkan para anak dari bahaya Narkoba. Beberapa kota besar di Indonesia Jakarta, Surabaya, medan, bandung dan Jogjakarta kita lihat begitu banyak pemuda terlantar yang hanya menghabiskan waktunya dengan kumpul-kumpul, duduk, mengamen dan bergitar untuk mencari uang demi membeli rokok, ganja dan narkoba dengan perkumpulannya yang hanya untuk mencari kesengan, bebas dan fly.


Suatu sistem akan berjalan jika ada roda permainannya begitu juga dengan dunia narkoba yang membahayakan nasib bangsa ini. Berawal dengan sebatang rokok yang awal nya coba-coba atau terpaksa karena lingkungan yang membuatnya begitu. Yang awalnya diberi Cuma-Cuma membuat kebiasaan merokok setiap hari sebelum masuk sekolah, disaat istirahat, pulang sekolah/ kampus dan saat berkumpul sampai harus mencuri uang orangtua atau menjual barang berharga hanya untuk membeli dan membayari rokok teman yang sudah mengasih sebuah rokok pada mulanya, dilanjutkan dengan Bandar narkoba yang mengincar perkumpulan-perkumpulan bebas, diskotik dan hiburan malam yang berkeliaran dimalam hari untuk memasarkan dagangan narkobanya. Dan membuat kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan karena tidak ingin merasakan sakau. Bahaya narkoba yang dapat mengancam nyawa bukan hanya merusak hidup pribadi juga nama baik keluarga dan bangsa. Sebagai solusi permasalahan di atas, dengan adanya kegiatan olahraga maka menurunkan aktivitas anak remaja masa kini untuk melakukan hal/kegiatan yang buruk salah satunya narkoba dengan latihan-latiahan dan event yang menyibukkan waktu mereka dan sebaliknya anak remaja sekarang untuk masa yang akan datang akan dapat mengharumkan nama bangsa ini sehingga menjadi generasi yang berprestasi.


Enam kegiatan yang disarankan untuk mencegah dari penyalahgunaan narkoba, menurut saya difokuskan kepada kegiatan olahraga yang bersifat massal, seperti sepakbola, futsal, bola voli, basket, bulutangkis, serta sepaktakraw. Dengan kegiatan – kegiatan tersebut, semoga pemuda menjadi seorang individu yang memiliki ketangguhan, semangat yang tinggi, bakat yang terpendam dalam jiwanya dan sebagai generasi penerus bagi pembangunan bangsa menuju arah yang lebih baik.

Sabtu, 27 Juli 2013

Kegiatan Positif di Bulan Ramadhan


Buka Puasa Bersama. Bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang beruntung. Dengan menahan lapar dan haus selama bulan puasa, kita bisa menyadari penderitaan kaum miskin yang harus menahan lapar setiap hari. Sementara itu, anak yatim tak bisa merasakan bahagianya sahur dan buka puasa bersama orang tua. Kita bisa meringankan penderitaan mereka dengan  buka puasa bersama.

Belajar Memasak. Di bulan Ramadhan, banyak majalah menampilkan resep makanan dan minuman yang cocok untuk berbuka puasa. Bereksperimen di dapur dengan mencoba membuat menu makanan tersebut bisa membuat waktu terasa cepat berlalu. Tapi, jangan keasyikan mencicipi masakan yang kamu buat ya! Jika sukses mencoba resep baru, hidangan yang kamu buat bisa disajikan untuk keluarga, dibagikan ke tetangga atau disumbangkan sebagai takjil di masjid.



Membersihkan rumah. Berpuasa juga bisa diisi dengan kegiatan membersihkan atau merapikan rumah hingga ke sudut-sudut yang jarang dijangkau sebelumnya. Ketika Idul Fitri tiba, saudara dan tetangga biasanya akan berkunjung ke rumah. Tentu memalukan jika kondisi rumah kotor dan berantakan. Daripada kerja bakti menjelang Idul Fitri, lebih baik merapikan rumah sedikit demi sedikit selama bulan puasa. Selain kegiatan di atas, masih banyak kegiatan bulan Ramadhan yang biasa dilakukan umat Muslim di Indonesia. Namun, tak semuanya dianggap baik di mata agama. Sebagai contoh, umat Islam di Indonesia punya tradisi “Ngabuburit” yang artinya “menunggu waktu berbuka puasa”. Meski menyenangkan, tradisi yang berasal dari daerah Sunda ini dianggap menyia-nyiakan waktu dan sedikit bertolak belakang dengan ajaran agama. Kini, Ngabuburit tak hanya populer di Jawa Barat tetapi juga Jakarta dan berbagai wilayah lainnya di Indonesia.

My Youtube Profile

Loading...