My Social Media Profile :
  • Bimbingan Konseling

    Diklat Pendidik Sebaya Angkatan III Kategori Pelajar dan Mahasiwa - Tahun 2012 yang diselenggarakan atas kerjasama UKM PIK STKIP PGRI Tulungagung dan BKKBN Kabupaten Tulungagung.
  • FORDIMAPELAR 2012

    Tahun 2012, Universitas Madura (Unira) menjadi tuan rumah pelaksanaan Forum Diskusi Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (Fordimapelar) se-Jawa Timur.
  • HUT SIK KE-41

    Pagi Sabtu 31 Juli 2010, di depan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) sekitar jam Sembilan pagi, para siswa, staf, guru, Komite Sekolah, orang tua murid, & para alumni mulai berdatangan memasuki kawasan sekolah untuk menghadiri acara peringatan HUT SIK Ke-41
  • Pembangunan Desa

    Perlunya perencanaan keuangan bagi tiap keluarga di desa yang terintegrasi dengan konsultasi dari pihak yang lebih kompeten seperti wakil dari pemerintah daerah, serta professional dari lembaga keuangan.
  • ALUMNI SIK

    Semoga kedepannya hasil output pendidikan nasional bisa berkontribusi secara nyata di masyarakat. Mewujudkan Generasi Emas Indonesia yang berdaya saing global serta kompeten dalam mengolah local genius.

Artikel Pilihan

Senin, 29 Desember 2014

Industri Kreatif Indonesia : Peran Teknologi Informatika dan Telekomunikasi Dalam Rangka Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015


1. Bagaimana Keadaan Industri Kreatif Indonesia Saat Ini ?
Saat ini, Industri Kreatif Indonesia mulai menjadi perhatian utama sebagian besar negara di dunia, karena sangat diyakini, bahwa Industri Kreatif Indonesia mampu memberikan kontribusi perekonomian secara signifikan dan berkesinambungan. Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif dunia setidaknya dalam 10 tahun ke depan mengingat hingga saat ini banyak produk kreatif karya anak bangsa Indonesia telah dikenal dan dipergunakan di banyak negara di luar negeri.[1] Dengan berbagai modal awal yang dimiliki Indonesia, mulai dari budaya dan tradisi seni yang kreatif, sumber daya alam yang melimpah, dan generasi muda yang banyak berikut populasi penduduk yang besar, lantas Indonesia  perlu kerja keras untuk menyatukan upaya-upaya sekaligus produk-produk kreatif anak bangsa Indonesia dalam satu wadah yang berkelanjutan.
Beberapa modal lain yang turut mendorong pertumbuhan Industri Kreatif Indonesia seperti sudah mulai adanya kesadaran untuk menumbuhkan talenta, memperkuat capacity building, membangun ruang publik, serta proteksi HAKI. Sehingga, dengan beberapa modal awal tersebut bisa mendorong untuk  pembukaan jejaring pasar yang lebih luas untuk para creator. Sekali lagi, memang dibutuhkan kerja keras dan adanya perubahan paradigma di kalangan pemerintah dan dunia bisnis.
Sekarang, masyarakat Indonesia sudah memahami ranah industri kreatif dengan baik, begitu juga pola pembangunan dan pengenbangannya. Karena, pada dasarnya di dalam industri kreatif, kreatifitaslah yang memegang peranan sentral sebagai sumber daya utama. Industri kreatif lebih banyak membutuhkan sumber daya kreatif yang berasal dari kreatifitas manusia daripada sumber daya fisik. Dengan catatan, sumber daya fisik tetap diperlukan terutama dalam peranannya sebagai media kreatif. Saat ini, secara umum ranah Industri Kreatif Indonesia seperti yang ditunjukkan gambar berikut ini : 


2. Bercermin Pada Data dan Fakta,Lantas Bagaimana Perkembangan Industri Kreatif Indonesia ?
Mencengangkan memang bila bercermin pada data Industri Kreatif Indonesia. Sumbangan industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah mencapai 7-8% atau sekitar 140 trilyun rupiah, dimana  kontribusi sektor ekonomi kreatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Melihat data awal, jika pada tahun 2010 mencapai Rp 472,8 triliun dan mampu menyerap 11,49 juta tenaga kerja dan pada 2011 naik menjadi Rp 526 triliun dengan serapan 11,51 juta tenaga kerja sedangkan pada tahun 2012  telah  menjadi Rp 573,4 triliun dengan serapan 11,57 juta tenaga kerja,[2] maka tren positif ini relatif akan terus berlanjut dalam jangka panjang (10–15 Tahun).
Perkembangan Industri Kreatif Indonesia merupakan salah satu penopang pertumbuhan positif  ekonomi nasional. Peran besar Industri Kreatif Indonesia yang digerakkan oleh komunitas anak muda seperti jasa desain grafis sampai produksi iklan, jingle, animasi dan game, akan relatif semakin besar di waktu yang akan datang. Bercermin pada fakta tersebut, besarnya potensi industri kreatif harus mulai diperhatikan dan menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan perannya. 
Lebih lanjut lagi, selain kontribusi ekonomi, Industri Kreatif Indonesia juga mampu menunjukkan citra positif bagi bangsa Indonesia. Industri Kreatif Indonesia merupakan cara yang paling ampuh dalam melestarikan budaya beserta aneka ragamnya.
Esensinya, industri kreatif dipahami sebagai pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja dengan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta. Melalui pemahaman yang benar, serta dengan terciptanya hubungan saling menguntungkan antara pelaku budaya beserta aneka ragamnya dengan pelaku budaya itu sendiri, sudah selayaknya, kini Industri Kreatif Indonesia telah menjelma menjadi kekuatan baru bagi bangsa Indonesia.

3. Pada Saat yang Bersamaan, Bagaimana Peran Teknologi Informatika dan Telekomunikasi Terhadap Berbagai Sektor dalam Industri Kreatif Indonesia ?
Esensinya, Teknologi Informasi (TI) hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya. Sedangkan industri kreatif itu sendiri dapat diartikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu. Industri kreatif bertujuan untuk membantu perekonomian nasional dan industri di tanah air.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia belakangan ini terbilang cukup pesat. Pada 2010, jumlah pengguna telepon selular (ponsel) mencapai 160 juta, fixed wireless access (FWA) 25,5 juta, dan internet mencapai 45 juta. Dua tahun kemudian perubahan bergerak pasti. Pengguna internet tumbuh  menjadi 55 juta, dengan 12 juta di antaranya mengakses melalui komputer pribadi sedangkan pengguna ponsel bertambah pada kisaran 255 juta.[3] Fenomena pertumbuhan konsumen digital tidak berhenti sampai di situ. Pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia juga terbilang sangat tinggi.
Pada saat yang bersamaan, peran Teknologi informasi  terhadap Industri Kreatif  dan pola kebangkitan kreatifitas menuju bangsa yang besar adalah sangat penting dan memiliki kontribusi yang relatif besar. Pada dasarnya di Indonesia, Setidaknya, ada lima peran penting teknologi informatika dan komunikasi dalam menunjang pertumbuhan bisnis Industri Kreatif Indonesia, seperti ditunjukkan pada gambar berikut ini : 


4. Lantas, Bagaimana Kesiapan Pelaku Industri Kreatif Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ?
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penghargaan hasil karya serta kreatifitas anak bangsa merupakan salah satu jawaban yang paling tepat untuk  menghadapi tantangan di kancah ASEAN, karena jika pemberdayaan dan penghargaan yang kurang akan memacu sumber daya tersebut mengembangkan diri di negeri orang, dalam hal ini negara dalam ruang lingkup ASEAN karena pada dasarnya MEA memang kompetisi mendapatkan tenaga kreatif dari segenap negara ASEAN.
Kunci bagi Indonesia menghadapi MEA selain dari modal awal yang dimiliki Indonesia, mulai dari budaya dan tradisi seni yang kreatif, sumber daya alam yang melimpah, dan generasi muda yang banyak berikut populasi penduduk yang bsar adalah dukungan dari pengembangan media komunikasi sehingga produk kreatif yang dihasilkan oleh pelaku Industri Kreatif Indonesia bisa dengan efektif dan efisien menjangkau golongan sasaran dalam pasar konsumen. Selanjutnya, perangkat yang lebih mendukung lagi yakni pola pengembangan software, web, online marketing, serta product branding sehingga daya saing tidak hanya mengacu pada penggunaan perangkat dan pola pengembangan yang harus di beli dari negara lain atau diproduksi oleh negara lain, tetapi bisa diproduksi dan diolah di Indonesia.
Pertanyaannya, mampukah Indonesia ? Tentu saja kita mampu, karena Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penghargaan hasil karya serta kreatifitas anak bangsa di Indonesia sangat banyak yang memiliki potensi serta tren positif. Berikut ini merupakan video dokumentasi pribadi penulis (penampilan siswa-siswi Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur) yang menunjukkan kreatifitas anak bangsa di kancah ASEAN : 


ASEAN dengan MEA menjadi seperti sebuah konsep negara federasi yang baru. Menjanjikan kekuatan ekonomi yang baru, yang diproyeksikan sebagai penyeimbang kekuatan ekonomi global. Melalui MEA, ASEAN menjadi sebuah tatanan masyarakat yang baru dimana Negara-negara anggotanya bebas untuk melakukan aktivitas ekonominya baik dalam barang dan jasa. Dengan pencapaian tersebut, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil yang bebas serta aliran modal yang lebih bebas. Adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan membawa ASEAN menjadi kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata, serta menurunnya tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial-ekonomi di kawasan ASEAN.

5. Selanjutnya, Bagaimana Membentuk Sinergi untuk Memajukan Industri Kreatif Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ?
Berbeda dengan karakteristik industri pada umumnya, Industri Kreatif Indonesia merupakan kelompok industri yang terdiri dari berbagai jenis industri yang masing  masing memiliki keterkaitan dalam proses pengeksploitasian ide atau kekayaan intelektual (intelectual property) menjadi nilai ekonomi tinggi yang dapat mengurangi tingkat penganggutan dan meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan.
Dilihat dari sudut pandang pelaksanaan MEA, terutama dari segi ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi ke luar negeri dalam ruang lingkup ASEAN dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. Berkaitan dengan pola perpindahan tenaga kerja dan tenaga ahli, maka MEA akan menghasilkan berbagai resiko ketenagakerjaan. Akan tetapi, idealnya MEA memang menjadi kesempatan yang bagus bagi pelaku Industri Kreatif Indonesia untuk mencari peluang terbaik sesuai dengan kriteria dan kapasitas yang dimiliki.
Melihat karakteristik Industri Kreatif Indonesia dan resiko ketenagakerjaan yang akan dihasilkan dari pelaksanaan MEA, seharusnya pelaku Industri Kreatif Indonesia bisa melihat apa saja yang menjadi poin–poin yang harus disinergikan pelaku Industri Kreatif Indonesia beserta stakeholders maupun pemerintah beserta swasta untuk menghadapi MEA. Sebagai gambaran umum, poin–poin penting tersebut antara lain seperti pada gambar berikut ini : 


6. Pada Akhirnya, Bagaimana Prospek Industri Kreatif Indonesia di Masa Depan ?
Dewasa ini ekonomi kreatif semakin mendapat perhatian serius karena dianggap sebagai salah satu kekuatan besar pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan tersebut didorong oleh teknologi Internet yang tanpa batas, bahkan bisa dikatakan ekonomi kreatif adalah gelombang keempat dan senjata rahasia di Indonesia. Dengan melihat banyaknya peluang yang dimiliki Industri Kreatif Indonesia, maka sudah selayaknyalah Teknologi informasi dikembangkan sebagai salah satu wadah yang mampu mengembangkan sumberdaya manusia yang aktif, kreatif dan memiliki potensi luar biasa. Dengan memberdayakan Industri Kreatif Indonesia dan mengembangkan sumberdaya manusia yang kreatif akan turut memajukan nama, martabat dan perekonomian bangsa. Kecintaan akan industri kreatifitas bangsa dan turut serta pemerintah dalam memajukan industri kreatifitas ini akan memberi peluang besar bagi  pengembangan kreatifitas anak bangsa, yang mampu menyerap tenaga kerja di berbagai bidang, dan menurunkan jumlah pengangguran.

catatan khusus : berbagai gambar dalam artikel ini merupakan dokumentasi pribadi penulis yang diolah dari berbagai sumber.


[1] Kementerian Perindustrian. 2013. Majalah Media Industri. Jakarta : Direktorat Jenderal Perindustrian. URL : www.kemenperin.go.id/download/1272 diakses 24 Desember 2014
[2] Kamar Dagang dan Industri Indonesia. 2010. Roadmap Pembangunan Ekonomi Indonesia 2009–2014. Jakarta : Publikasi Kadin. URL : http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-107-4057-16102009.pdf diakses 21 Desember 2014
[3] Warta Ekonomi Online. 2012. Peran TIK dalam Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta : wartaekonomi.co.id. URL : http://wartaekonomi.co.id/berita3131/peran-internet-terhadap-pertumbuhan-ekonomi.html diakses 21 Desember 2014

Senin, 29 September 2014

Logo Baru STKIP PGRI Tulungagung

Gambar dalam post ini merupakan logo STKIP PGRI Tulungagung yang terbaru, yakni edisi 2014. Saya mengunggah dis sini karena akhir - akhir ini banyak mahasiswa baru maupun mahasiswa angkatan atas STKIP PGRI Tulungagung yang ingin mendapatkan file digital logo STKIP PGRI Tulungagung yang baru, entah itu untuk keperluan makalah, proposal, presentasi serta tugas kuliah lainnya. Akan tetapi, setelah mencari di beberapa website masih juga belum ditemukan file digital logo STKIP PGRI Tulungagung yang baru. Silahkan didownload, semoga bisa digunakan sebagaimana mestinya. Terakhir, semoga seluruh mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa angkatan atas bisa menjalankan berbagai tugas kuliah dengan lancar, semoga sukses.

Minggu, 10 Agustus 2014

Review Artikel “Mengapa Jokowi ?”

Saya tertarik dengan pembahasan Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) yang membahas Presiden terpilih kita, yakni Joko Widodo yang Anda tuangkan dalam artikel berjudul “Mengapa Jokowi ?” (http://www.agusmulyadi.web.id/2014/06/mengapa-jokowi.html) dan di-posting Tanggal 20 Juni 2014 yang lalu. Awalnya, saya membaca artikel tersebut dengan seksama, saya tertarik untuk memberikan semacam artikel balasan untuk menanggapi artikel yang Anda posting di blog pribadi Anda tersebut. Lantas, di sini saya bermaksud untuk memberikan sedikit review tentang opini – opini yang Anda tulis sekaligus juga memberikan sedikit review secara makro tentang Pilpres 2014 itu sendiri. Selanjutnya, saya membuat rincian bagian – bagian penting dari artikel Anda dan dalam waktu yang bersamaan saya menuliskan pendapat saya secara pribadi. Berikut ini bagian – bagian penting dalam artikel “Mengapa Jokowi ?” :


1. Bagian Awal :

Pada bagian awal, Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) menulis : “Perlu digarisbawahi, saya tidak mendukung Jokowi, melainkan lebih mendukung Jokowi. Tolong bedakan. Saya mendukung Jokowi maupun Prabowo, karena bagaimanapun, saya yakin, baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama punya visi yang baik untuk memajukan Indonesia. Namun karena saya harus memilih salah satu, saya memutuskan untuk lebih mendukung Jokowi.”

Untuk hal ini saya tidak sependapat, karena saya lebih memilih Prabowo. Dalam hal ini, saya berpendapat Prabowo lebihg memiliki karakter sebabagi pemimpin. Buktinya beliau memimpin banyak organisasi selepas pensiun sebagai militer. Dalam waktu bersamaan, Prabowo memiliki partai, Partai Gerindra. Dengan memiliki partai publik menjadi jelas akan arah pencalonannya. Prabowo berbeda dengan para tokoh lain yang tidak memiliki partai seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, atau Dahlan Iskan. Saya juga yakin Prabowo juga sosok nasionalis yang mampu menjaga tanah air, pulau dan perairan Indonesia.


2. Bagian Penegasan :
Kemudian Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) menambahkan, “Saya kagum dengan sosok Jokowi yang begitu santun dan sederhana. Walaupun beliau agak plegak-pleguk kalau bicara, namun menurut saya, beliau cerdas dan Banyak akal dalam menyelesaikan berbagai solusi pemerintahan yang dia pimpin.”

Sebenarnya, dari awal saya sudah merasakan media massa yang sebenarnya berperan dalam hal ini. Media cetak dan elektronik selalu menampilkan Slogan Jokowi-JK yang jujur, bersih, sederhana dan merakyat sebagai antitesa (lawan) dari keadaan atau kondisi kehidupan sekarang yang korup, borjuis, hedonis, dan permisive. Jokowi-JK benar-benar sedang membangun citra baru, sebagai tokoh jujur, bersih, sederhana dan merakyat. Gambaran ini terus di berikan kepada rakyat. Media massa juga menambahkan, Jokowi memiliki hobi mendengarkan musik rock dan gemar naik gunung semasa muda. Selain itu, masih banyak hal menarik yang dimiliki mantan Wali Kota Surakarta ini. Pemberitaan yang sempat meramaikan media massa sekaligus menjadi kontroversi yakni ketika Jokowi mendukung keberhasilan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo dalam merakit mobil yang diberi nama Esemka. Jokowi bahkan menggunakan mobil Esemka sebagai mobil dinasnya dengan nomor polisi AD 1 A. Dalam hal ini, saya berpendapat citra/ sosok Jokowi yang suka blusukan dan mau menyapa rakyat memang disenangi. Namun karena keunggulan dan citra Jokowi itu dieksploitasi berlebihan untuk menarik minat publik, hasilnya justru kontraproduktif.


3. Bagian Tambahan :
Artikel “Mengapa Jokowi ?” (http://www.agusmulyadi.web.id/2014/06/mengapa-jokowi.html) berlanjut dengan statement : “Begitu Hijrah ke Jakarta, kompetensinya sebagai pemimpin pun kembali teruji. Bersama Ahok, Jokowi seolah menjelma menjadi Macan dingin yang mrantasi. Gaya blusukannya yang khas menjadikannya cepat populer di mata masyarakat.”

Jujur saja, untuk memimpin Jakarta, saya lebih menyukai gaya manajemen Ahok.Walau terlihat hampir tidak beda dengan ilmu manajemen kepemimpinan Jokowi, Ahok pun ternyata menerapkan ilmu manajemen kepemimpinan yang tidak kalah sederhananya yaitu “apa maunya saya”. Atas dasar penegakkan konstitusi, Ahok bergeming dalam banyak persoalan yang menjadi tanggung-jawabnya. Ahok maju tak gentar membela yang benar, Ahok melawan, Ahok menantang siapa saja yang berani melanggar konstitusi dan siap mati untuk itu.

4. Bagian Akhir :

Di akhir artikel, Agus Mulyadi (agusmulyadi.web.id) menulis “Pada akhirnya, saya agaknya harus kembali menegaskan, bahwasanya saya lebih memilih Jokowi ketimbang Prabowo. Tapi sejujurnya, saya merasa masygul ketika tokoh Sebrilian Prabowo dan setulus Jokowi harus bertarung satu sama lain.”

Menurut sudut pandang saya, Jokowi yang saat ini terpilih sebagai Presiden ke - 7 Republik Indonesia memiliki sebenarnya kisah menarik dalam kehidupannya yang belum banyak mendapatkan sorotan dari media massa. Saya percaya, terpilihnya Jokowi menjadi Gubernur hingga menuju kursi orang nomer satu di Indonesia sangat menarik untuk dicermati. Sebab, selama ini ia selalu menampilkan sosok “ndeso” dan sederhana kepada warga. Akhirnya, harapan saya, politik yang saat ini sangat bersahabat dengan kekuasaan, uang dan kemewahan. Akan tetapi kali ini saya berharap Jokowi tidak bersahabat dengan itu. Kepemimpinannya yang berasal dari hati, semoga menyentuh hati rakyat untuk tetap mendukung kepemimpinannya selama 5 tahun ke depan untuk Indonesia yang lebih baik.

Rabu, 28 Agustus 2013

Paradigma Baru Pemuda dan Politik

Mengungkapkan realitas politik sebagaimana dingkapkan sebelumnya tegas disimpulkan bahwa transformasi politik adalah suatu keniscayaan, sehingga sekurang-kurangnya yang menjadi agenda atas persoalan itu adalah; Pertama; soal bagaimana para elit-elit partai politik mampu memberi arti keberadaan suatu partai politik, bukan semata pada tujuannya untuk menjadi instrumen pencapaian kedudukan, tetapi jauh lebih berarti adalah menggerakan fungsi-fungsinya untuk mengartikulasikan kemaslahatan rakyat banyak. Kedua, bagaimana elit-elit para pelaku politik untuk tidak terjebak pada adagium dan paradigma lama untuk meletakkan status quo, tetapi pada komitmen dan integritas sebagai elemen perubah. Ketiga, bagaimana para pelaku politik mampu mendorong tercipatanya sistem politik di satu sisi, dan menggerakkannya secara komplementer dengan budaya politik yang bertum-buh kembang di tengah masyarakat.


Jika ketiga soal tersebut dijadikan sebagai agenda transformasi politik, maka selain kaum intelektual dan cerdik cendekia posisi peran pemuda diharapkan menjadi instrumen penentu, sebagaimana rentetan pergerakannya yang dicatatkan dengan tinta emas dalam potret sejarah perubahan bangsa Indonesia, baik sebelum kemerdekaan (kebangkitan nasional 1908, per-sepakatan satu bangsa 1928, dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 1945), maupun sesudah Indonesia merdeka. Hanya saja, persoalan lain yang sampai saat ini belum terselesaikan, adalah soal pola dan bentuk gerakan kaum muda dalam menggerakkan suatu perubahan. Yaitu antara gerakan struktural dalam bentuk pemberontakan, ataukah gerakan kultural dalam bentuk penciptaan kesadaran hak-hak dan tanggungjawab sebagai warga negara. Penganut gerakan kultural menuding bahwa gerakan struktural tidak menyentuh pada substansi persoalan, semen-tara penganut struktural berdalih bahwa gerakan kultural sangat lamban dalam melakukan perubahan. Meskipun, dari sisi proses keduanya memiliki tarik ulur yang sama kuatnya, tetapi ketemu pada tujuan pencapaiannya dalam melaku-kan perubahan.


Untuk itulah, selain karena memiliki pembenarannya masing-masing, juga karena keduanya memiliki pencapaian tujuan yang sama, sehingga soal itu tidak mesti harus diselesaikan. Tetapi dalam melakukan transformasi politik era reformasi, keduanya sama-sama menjadi penting. Transformasi politik di satu sisi adalah soal struktural, sebagaimana tujuan partai politik untuk mencapai kekuasaan, membangun sistem politik, dan bagaimana para pelaku politik mampu menggerakkannya. Selebihnya transformasi politik secara kultural menjadi suatu yang absah, yaitu bagaimana menggerakkan partai politik untuk menjalankan fungsi-fungsinnya bagi masyarakat setidak-tidaknya para pengikutnya, untuk menciptakan suatu budaya politik yang egalitarian, berdasarkan komitmen pembaharuan dari para pelaku politik.

Rabu, 31 Juli 2013

Pemuda dan Kepemimpinan


Berdasarkan sejarah, tonggak awal kebangkitan nasional disebutkan diawali dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo tahun 1908. Organisasi yang dimotori oleh para mahasiswa Stovia sekolah kedokteran yang didirikan Belanda untuk anak priyayi Indonesia. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan karena organisasi Budi Oetomo tidak bersifat nasional. Organisasi ini hanya ada di Jawa dan memang khusus diperuntukkan untuk orang Jawa. Kontroversi sejarah tersebut tidak bisa menafikan bahwa sejak saat itu perjuangan pemuda telah memasuki babak baru. Perjuangan melalui sarana organisasi telah dimulai. Walaupun dimulai oleh organisasi yang bersifat kedaerahan, kesadaran untuk menyatu dalam suatu bangsa sudah ada. Dipelopori oleh para mahasiswa yang disekolahkan oleh Belanda dengan kebijakan politic etis.


Selanjutnya, periodisasi sejarah Indonesia modern memiliki keunikan tersendiri. Pembagian periode sejarah berdasarkan waktu itu diwarnai oleh gerakan pemuda di dalamnya. Sejarah Indonesia modern sering disebut berdasarkan periode kebangkitan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, bangkitnya orde baru 1966 dan dimulainya orde reformasi 1998. Peran pemuda dalam sejarah Indonesia sering disebut diawali oleh peristiwa kebangkitan nasional tahun 1908. Walaupun demikian sebenarnya peran pemuda telah diawali jauh sebelum itu. Hanya bentuk perannya yang berbeda. Sebelum 1908, para pemuda lebih banyak berperan dalam perjuangan secara fisik melawan penjajah namun lebih bersifat sektoral dan tidak terorganisir dalam satu wadah kesatuan. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ungkapan ini begitu masyhur dan telah menjadi nyata. Selain itu juga adanya sebuah pernyataan bahwa masa depan terletak di genggaman para pemuda. Artinya, baik buruknya suatu umat di masa datang di tentukan oleh baik buruknya pemuda di masa kini. Ungkapan tersebutlah yang menjadi barometer dan standarisasi dalam pembinaan dan mendidik generasi muda untuk melanjutkan estafet perjuangan. Pemuda merupakan pilar kebangkitan umat. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Kepemimpinan pemuda semakin dituntut oleh masyarakat pada umumnya, namun perubahan menuju masyarakat yang sejahtera seakan masih menjadi sebuah jalan panjang yang tak tahu dimana ujungnya. Bergantinya rezim pemerintahan dari masa ke masa seolah hanya menjadi sebuah rutinitas sakral dan ajang pertunjukan kekuasaan. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita utama perubahan hanya menjadi simbol jualan pasar menuju kekuasaan.


Saya kira hal inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi para pemuda masa kini yang sering disebut sebagai calon pemimpin bangsa masa depan. Pemuda yang di maksud adalah mahasiswa yang sedianya dikenal sebagai kalangan intelektual. Mahasiswa merupakan tingkatan dimana seseorang itu telah mampu menemukan jati diri atau pematangan diri. Sehingga pada tahapan ini proses pendidikan atau wawasan yang di terima sangat menentukan bagi masa depan mereka. Kemudian selanjutnya adalah bagaimana pemuda-pemuda ini mampu tampil sebagai seorang pemimpin di masa depan. Tentu hal mendasar yang harus diupayakan adalah melatih dan menanamkan karakter kepemimpinan mulai dari sekarang. Karena jiwa kepemimpinan dikalangan pemuda saat ini masih menjadi sebuah masalah dan tuntutan yang harus terus diasah dan ditingkatkan kualitasnya selain basis keilmuan/kompetensinya. Dengan demikian, maka sungguh banyak kewajiban pemuda, tanggung jawab, dan semakin berlipat, hak-hak umat yang harus ditunaikan oleh para pemuda. Pemuda dituntut untuk berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat dan hendaknya mampu menunaikan hak-hak umat dengan baik. Dengan kata lain, pemuda sesungguhnya dituntut untuk mendidik dirinya menjadi pemuda yang memiliki jiwa-jiwa pemimpin.

Senin, 29 Juli 2013

Olahraga Mencegah Narkoba


Untuk menghindari bahaya jeratan Narkoba,  Keseharian para Pemuda harus diisi dengan sejumlah kegiatan Positif  salah satunya dengan aktif pada Kegiatan-kegiatan Kesenian dan Kebudayaan, perhatian para orang tuapun memegang peranan penting  untuk menjauhkan para anak dari bahaya Narkoba. Beberapa kota besar di Indonesia Jakarta, Surabaya, medan, bandung dan Jogjakarta kita lihat begitu banyak pemuda terlantar yang hanya menghabiskan waktunya dengan kumpul-kumpul, duduk, mengamen dan bergitar untuk mencari uang demi membeli rokok, ganja dan narkoba dengan perkumpulannya yang hanya untuk mencari kesengan, bebas dan fly.


Suatu sistem akan berjalan jika ada roda permainannya begitu juga dengan dunia narkoba yang membahayakan nasib bangsa ini. Berawal dengan sebatang rokok yang awal nya coba-coba atau terpaksa karena lingkungan yang membuatnya begitu. Yang awalnya diberi Cuma-Cuma membuat kebiasaan merokok setiap hari sebelum masuk sekolah, disaat istirahat, pulang sekolah/ kampus dan saat berkumpul sampai harus mencuri uang orangtua atau menjual barang berharga hanya untuk membeli dan membayari rokok teman yang sudah mengasih sebuah rokok pada mulanya, dilanjutkan dengan Bandar narkoba yang mengincar perkumpulan-perkumpulan bebas, diskotik dan hiburan malam yang berkeliaran dimalam hari untuk memasarkan dagangan narkobanya. Dan membuat kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan karena tidak ingin merasakan sakau. Bahaya narkoba yang dapat mengancam nyawa bukan hanya merusak hidup pribadi juga nama baik keluarga dan bangsa. Sebagai solusi permasalahan di atas, dengan adanya kegiatan olahraga maka menurunkan aktivitas anak remaja masa kini untuk melakukan hal/kegiatan yang buruk salah satunya narkoba dengan latihan-latiahan dan event yang menyibukkan waktu mereka dan sebaliknya anak remaja sekarang untuk masa yang akan datang akan dapat mengharumkan nama bangsa ini sehingga menjadi generasi yang berprestasi.


Enam kegiatan yang disarankan untuk mencegah dari penyalahgunaan narkoba, menurut saya difokuskan kepada kegiatan olahraga yang bersifat massal, seperti sepakbola, futsal, bola voli, basket, bulutangkis, serta sepaktakraw. Dengan kegiatan – kegiatan tersebut, semoga pemuda menjadi seorang individu yang memiliki ketangguhan, semangat yang tinggi, bakat yang terpendam dalam jiwanya dan sebagai generasi penerus bagi pembangunan bangsa menuju arah yang lebih baik.

My Youtube Profile

Loading...